Papaku Tersayang

December 15th, 2007 by budimanhalim

Lebih kurang pukul 07.15 WIB tepatnya hari Sabtu tanggal 15 Desember 2007, laksana petir menyambar saat aku mendengar kabar yang paling tak ingin kudengar beberapa waktu belakangan ini. Setelah kesekian kalinya cobaan seperti ini kami lewati bersama-sama sekeluarga. Walaupun begitu syukur alhamdulillahi akhirnya ayahandaku tercinta masih diberikan kesempatan untuk meneruskan perjuangan hidup bersama keluarganya.

Namun sepertinya berita yang aku dapati pagi ini terdengar jauh berbeda. Akupun bergegas pergi demi untuk mencari kebenaran berita yang masih aku ragukan tersebut. Dengan kondisi baru bangun tidur, cuci muka sedikit, akupun pergi. Setelah sampai di Rumah sakit Pertamina UP II Dumai tepatnya di ruangan perawatan penyakit dalam yang diberi nama ruangan E2, akupun membuka pintu masuk ruangan E2 langsung saja ke kamar tempat dimana papaku dirawat. Dari dekat tampak ibundaku yang tersayang menangis terisak dengan tetesan air mata yang hampir kering. Baru selangkah aku masuk ke dalam kamar, spontan mama dengan tangisan yang kembali menguat meneriakkan, “budi.. papa kalian sudah nggak ada lagi.. papa sudah pergi meniggalkan kita!”

Akupun segera memeriksa, meraba, mengelus, menampar-nampar kecil ke bagian pipi sang papa tercinta. Masih hangat terasa tubuh sosok yang paling kuhormati itu. Namun setelah kudapati tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan seperti detak jantung maupun denyutan nadi, dadakupun mulai kembali bergetar tak tentu arah. Dibatinku terucap, “benar, papaku benar-benar telah meninggalkanku.. meninggalkan kami semua sekeluarga..”.

Spontan akupun langsung memeluk tubuh papaku yang mulai kaku tersebut. Kening, bibir, dan hidung beliau memang semakin dingin. Meski saat itu kulit pada pipinya masih lentur dan hangat. Akupun tersadar, teringat syariat agamaku yang melarang jatuhnya tetesan air mata ketubuh jenazah. Akupun berusaha menahan tangisku agar jangan sampai tetesan air mata yang tak dapat kutahankan ini jatuh ke wajah yang telah terbujur sayu dengan mulut ternganga yang mungkin disebabkan karena sakitnya sakaratul maut yang baru sahaja dilewatinya.

“Innalillahi wa innailaihi roojiuun.. Selamat jalan pa.. Aku sayang sama papa..” dengan getir kuucapkan kalimat itu ke telinganya. Dengan harapan semoga arwahnya yang baru saja ditarik sang malaikal maut, masih belum pergi jauh. Semoga arwahnya masih bisa mendengar semua isi hatiku saat itu.

Uuuppss.. Tunggu.. Aku masih belum menyelesaikan tugasku untuk memberikan kabar ke semua kakak-kakakku. Kuambil HP dari kantong jaketku. Kucari nomor HP kakak-kakakku yg nun jauh di luar kota sana. Langsung saja ku hubungi satu mereka persatu. Dengan tegas kusampaikan, “kak, segera pulang.. papa kita sudah tiada..”. Hanya sepenggal kalimat itu saja yang dapat kusampaikan kepada kakak ku yg ke empat. Sebelum akhirnya HP ku tiba-tiba mati. Lowbat, karena aku lupa untuk mencasnya tadi malam. Karena aku ketiduran setelah kecapekan mengantar papaku kerumah sakit tadi malam. Segera ku broadcast via sms semua rekan-rekan kerjaku. Karena aku tahu hari ini hari sabtu. Tidak semua karyawan di kantorku ngantor hari ini.

Kami terpaksa membawanya kembali ke rumah sakit karena malam itu papa mengaku merasa sangat sulit untuk bernafas. Padahal kemarin sebelumnya tepatnya hari kamis, papaku baru aja pulang dari rumah sakit perusahaan tempat dahulu dia bekerja tersebut. Dia berhasil merayu Tim Dokter yang memeriksanya hari itu. Tim Dokter?? Benar, karena setiap hari Kamis memang sebagian besar dokter-dokter terkenal di kota Dumai berkumpul guna ’sharing practice’ secara rutin di Rumah sakit Pertamina UP II Dumai.

Masih terngiang diingatanku saat-saat dia mengerang kesakitan, susah untuk bernafas. Sangat sedih sekali kami yang ada dirumah saat melihat kondisinya malam itu. Bebarapa kali ia memanggil namaku untuk meminta sesuatu agar dia bisa merasa nyaman meskipun sebentar saja. Setelah susah payah dibujuk, akhirnya kamipun memutuskan untuk membawanya kembali ke rumah sakit itu. Kusuruh adek laki-lakiku untuk mencari sebuah oplet untuk dicarter guna membawa papa kami ke rumah sakit. Begitulah kondisinya karena kami tidak mempunyai mobil yang dapat mengantarnya. Lagian tetangga-tetangga sebelah kami juga tidak mempunyai mobil yang bisa kami tumpangi demi mengantar papa.

Setelah sampai kembali di Rumah sakit itu, dokter di ICU pun segera melakukan pertolongan. Agak lamban memang karena kebetulan ada pasien lain yang tertimpa musibah kecelakaan sehingga juga mesti dirawat secara intensif. Sekitar satu jam lebih masih menahan sesak nafasnya papapun akhirnya kembali tenang nafasnya. Mungkin saja akibat efek dua botol Infus yang di injeksikan sekaligus di kedua tangan kanan kiri papa. Akhirnya seperti biasa kalo udah di rumah sakit papa kembali bisa tertolong. Kamipun semua gembira. Papa kembali bisa tersenyum melihat anak, menantu dan cucunya ikut mengatarnya. Senang sekali tampak terukir diwajah tuanya. Tetapi cucunya yang masih berusia dua setengah tahun tersebut mungkin masih tidak memahami saat-saat itu. Kamipun anak-anak dan cucu pulang kembali ke rumah. Sambil berdoa agar papa cepat sembuh dan pulang kerumah kembali dengan selamat. Begitulah kondisinya sampai kamipun tertidur hingga esok paginya.

Pukul 09.00 WIB kakakku yang tinggal disebelah rumahkupun menyusul datang kerumah sakit setelah kukabari tentang kepergian papa. Suaminya (abang iparku) batal untuk berangkat ke Bali sesuai undangan gathering dari Partner kerjanya. Tubuh papa semakin kaku dan dingin. Kamipun mencari cara bagaimana caranya dapat membawa jenazah papa untuk kembali ke rumah duka kami. Ada saran dari kerabat lama kami yang kebetulan datang takziah pagi itu di rumah sakit, agar menghubungi Badan Dakwah Islam Korpri Pertamina. Karena BDI-K memang persatuan untuk keluarga besar Pertamina UP II Dumai. Setelah mendapat keterangan kamipun senang karena BDI-K bersedia membantu prosesi pemakaman jenazah papa sampai selesai. Syukur alhamdulillahi di bathinku.

Papa kini papa telah meninggalkan kami semua. Maafkan segala dosa-dosa anakmu ini. Andai saja papa tahu sedalam apa cinta kasih budi kepada papa… Namun budi akui budi memang tidak pandai untuk mengekspresikannya di depan papa. Budi janji akan senantiasa mendoakan papa selama budi masih bernafas dengan baik. Papa budi sayaaaaaaaaaaaaaaaang kali ama papa. Budi masih belum dapat melupakan bagaimana sayangnya papa sama budi dimasa-masa lalu. Budi tau waktu tidak mungkin akan terulang kembali. Semuanya sudah menjadi takdir Allah SWT. Semoga kita bisa bertemu kembali bersama-sama sekeluarga esok hari di syurga, amiiiiin…

Dumai Plaza

December 9th, 2007 by budimanhalim

Hari ini Minggu 9 Desember 2007 telah diresmikan sebuah pusat perbelanjaan dikota kelahiran ku..

Mengharukan sekaligus memberikan kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat di kota ku ini..

Puluhan ribu umat manusia menyambut hari peresmian ini, tampak seolah semut yg sedang mengerumuni sekotak kue bergula..

Sungguh sebuah fenomena yang baru bagi kota ini..